Mengenal Berbagai Jenis Kecerdasan Anak
Selama ini, banyak dari kita yang hanya mementingkan IQ semata. Kita bangga kalau anak juara olimpiade fisika namun kita menyepelekan jika ada yang jago menari, pandai bergaul, pandai bahasa, olahraga dan sejenisnya. Padahal kejeniusan bukan semata-mata memiliki IQ diatas 130, namun jenius bisa dimiliki anak dibidang manapun (seni, olahraga, sastra, kepemimpinan dll).
Parahnya lagi, sekolah kita
mewajibkan tiap anak harus cakap dalam segala bidang. Sehingga pada
kasus ujian nasional, seringkal mereka yang jenius dalam bidang olahraga
atau seni harus tidak lulus karena gagal pada bidang matematika.
Dimasa depan, Indonesia harus
memiliki guru-guru yang mampu memberikan motivasi kepada anak didiknya.
Sudah bukan jamannya lagi guru killer yang kerap memberikan
hukuman fisik berupa tamparan, mempermalukan di depan kelas dan lain
sejenisnya. Tidak mengherankan jika hanya sedikit anak yang menyukai
sekolah. Mereka hanya senang jika bel istirahat dan pulang sekolah
berbunyi. Dimasa depan, sekolah juga harus memahami model kecerdasan
tiap muridnya sehingga kurikulum akan sesuai dengan model kecerdasan
tiap anak.
Berkaitan dengan kecerdasan,
Howard Gardner, dalam bukunya Multiple Intelligences (Kecerdasan Ganda),
membagi kecerdasan anak dalam spektrum yang cukup luas.
1. Kecerdasan matematika dan logika atau cerdas angka
Memuat kemampuan seorang anak
berpikir secara induktif dan deduktif, kemampuan berpikir menurut aturan
logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah
melalui kemampuan berpikir. Anak-anak dengan kecerdasan matematika dan
logika yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan analisis dan
mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu.
Mereka menyenangi cara berpikir
yang konseptual, misalnya menyusun hipotesis, mengategori, dan
mengklasifikasi apa yang dihadapinya. Anak-anak ini cenderung menyukai
aktivitas berhitung dan memiliki kecepatan yang tinggi dalam
menyelesaikan problem matematika.
Bila kurang memahami, mereka
cenderung bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dipahaminya.
Anak-anak yang cerdas angka juga sangat menyukai permainan yang
melibatkan kemampuan berpikir aktif seperti catur dan bermain teka-teki.
Setelah remaja biasanya mereka cenderung menggeluti bidang matematika
atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli
statistik, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.
2. Kecerdasan bahasa atau cerdas kata
Memuat kemampuan seorang anak
untuk menggunakan bahasa dan kata-kata baik secara lisan maupun tulisan
dalam berbagai bentuk yang berbeda untuk mengekspresikan gagasannya.
Anak-anak dengan kemampuan bahasa yang tinggi umumnya ditandai dengan
kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti
membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara.
Anak-anak ini cenderung memiliki
daya ingat yang kuat akan nama-nama orang, istilah-istilah baru, maupun
hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah belajar
dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal kemampuan menguasai
bahasa baru, anak-anak ini umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi
dibandingkan dengan anak-anak lainnya. Pada saat dewasa biasanya mereka
akan menjadi presenter, pengarang, penyair, wartawan, penerjemah, dan
profesi-profesi lain yang banyak melibatkan bahasa dan kata-kata.
3. Kecerdasan musikal atau cerdas musik
Memuat kemampuan seorang anak
untuk peka terhadap suara-suara nonverbal yang berada di sekelilingnya,
dalam hal ini adalah nada dan irama. Anak-anak ini senang sekali
mendengar nada-nada dan irama yang indah, mulai dari senandung yang
mereka lakukan sendiri, dari radio, kaset, menonton orkestra, atau
memainkan alat musik sendiri. Mereka lebih mudah mengingat sesuatu
dengan musik. Saat dewasa mereka dapat menjadi penyanyi, pemain musik,
komposer pencipta lagu, dan bidang-bidang lain yang berhubungan dengan
musik.
4. Kecerdasan visual spasial atau cerdas gambar
Memuat kemampuan seorang anak
untuk memahami secara lebih mendalam mengenai hubungan antara objek dan
ruang. Anak-anak ini memiliki kemampuan menciptakan imajinasi bentuk
dalam pikirannya, atau menciptakan bentuk-bentuk tiga dimensi. Setelah
dewasa biasanya mereka akan menjadi pemahat, arsitek, pelukis, desainer,
dan profesi lain yang berkaitan dengan seni visual.
5. Kecerdasan kinestetik atau cerdas gerak
Memuat kemampuan seorang anak
untuk secara aktif menggunakan bagian-bagian atau seluruh tubuhnya untuk
berkomunikasi dan memecahkan berbagai masalah. Hal ini dapat dijumpai
pada anak-anak yang unggul dalam bidang olah raga, misalnya bulu
tangkis, sepak bola, tenis, renang, basket, dan cabang-cabang olah raga
lainnya, atau bisa pula terlihat pada mereka yang unggul dalam menari,
bermain sulap, akrobat, dan kemampuan-kemampuan lain yang melibatkan
keterampilan gerak tubuh.
6. Kecerdasan inter personal atau cerdas teman
Memuat kemampuan seorang anak
untuk peka terhadap perasaan orang lain. Mereka cenderung memahami dan
berinteraksi dengan orang lain sehingga mudah dalam bersosialisasi
dengan lingkungan di sekelilingnya. Kecerdasan ini disebut juga
kecerdasan sosial, dimana seorang anak mampu menjalin persahabatan yang
akrab dengan teman-temannya, termasuk berkemampuan memimpin,
mengorganisasi, menangani perselisihan antar teman, dan memperoleh
simpati dari anak yang lain. Setelah dewasa mereka dapat menjadi aktivis
dalam organisasi, public relation, pemimpin, manajer, direktur, bahkan
menteri atau presiden.
7. Kecerdasan intra personal atau cerdas diri
Memuat kemampuan seorang anak
untuk peka terhadap perasaan dirinya sendiri. Mereka cenderung mampu
mengenali kekuatan atau kelemahan dirinya sendiri, senang mengintropeksi
diri, mengoreksi kekurangan maupun kelemahannya dan kemudian mencoba
untuk memperbaiki dirinya sendiri. Beberapa di antara mereka cenderung
menyenangi kesendirian dan kesunyian, merenung dan berdialog dengan
dirinya sendiri. Saat dewasa biasanya mereka akan menjadi ahli filsafat,
penyair, atau seniman.
8. Kecerdasan naturalis atau cerdas alam
Memuat kemampuan seorang anak
untuk peka terhadap lingkungan alam, misalnya senang berada di
lingkungan alam terbuka seperti cagar alam, gunung, pantai, dan hutan.
Mereka cenderung suka mengobservasi lingkungan alam seperti aneka macam
bebatuan, flora dan fauna, bahkan benda-benda di ruang angkasa. Saat
dewasa mereka dapat menjadi pecinta alam, pecinta lingkungan, ahli
geologi, ahli astronomi, penyayang binatang, dan aktivitas-aktivitas
lain yang berhubungan dengan alam dan lingkungan.
Dengan konsep Multiple
Intelligences (Kecerdasan Ganda) ini, Howard Gardner ingin mengoreksi
keterbatasan cara berpikir yang konvensional mengenai kecerdasan, bahwa
seolah-olah kecerdasan hanya terbatas pada hasil tes intelegensi yang
sempit saja, atau hanya sekadar dilihat dari prestasi yang ditampilkan
seorang anak melalui ulangan maupun ujian di sekolah belaka.
Anak-anak unggul pada dasarnya
tidak akan tumbuh dengan sendirinya, mereka memerlukan lingkungan subur
yang diciptakan untuk itu. Oleh karena itu diperlukan kesungguhan dari
orang tua dan pendidik untuk secara tekun dan rendah hati mengamati dan
memahami potensi anak atau murid dengan segala kelebihan maupun
kekurangannya, dan menghargai seriap bentuk kecerdasan yang berlainan.
Nah, termasuk kategori yang mana
kecerdasan sobat baraya waktu kecil dahulu atau kecerdasan putra-putri
sobat baraya? Ataukah kecerdasan kita termasuk perpaduan dari dua atau
lebih dari tipe kecerdasan yang ada?
Sumber dari
http://tkj-go.blogspot.com/2011/08/mengenal-berbagai-jenis-kecerdasan-anak.html



















0 komentar:
Posting Komentar